Baru* Kategori tutorial yang mungkin dapat membantu anda. Bila ada saran dan komentar silahkan isi di kotak yang sudah tersedia atau E-mail ke rama.ripper@gmail.com

Sejarah Krakatau

Komplek Krakatau terdiri dari empat pulau, Rakata, Sertung, Panjang dan Anak Krakatau. Ketiga pulau pertama adalah sisa pembentukan kaldera, sedangkan Anak krakatau tumbuh mulai 20 Januari 1930. Laut di dalam komplek bervariasi kedalamannya, bagian utara dan timur dangkal sedangkan bagian barat dan selatan dalam, bagian yang paling dalam lk. 80 m terdapat di antara pulau Rakata dan Anak Krakatau.

Letusan paroksismal pada 27 Agustus 1883 dianggap kejadian terbesar dalam sejarah letusannya, melontarkan rempah vulkanik dengan volume 18 km3, tinggi asap 80 km dan menimbulkan gelombang pasang (tsunami) setinggi 30 m di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung. Walaupun belum ada kota-kota besar disepanjang pantai tersebut seperti sekarang, tetapi 297 kota kecil (kota kecamatan) hancur disapu tsunami dan menewaskan 36.417 jiwa. Diperkirakan 2000 orang tewas di Sumatera bagian selatan oleh "abu panas" dan terdapat bukti nyata bahwa piroklastik mencapai jarak tersebut. 3150 jiwa tewas diarah piroklastik ini, pada pulau-pulau antara Krakatau dan Sumatera


Krakatau diketahui dalam sejarah pada saat terjadi letusan besar pada 416 SM, yang menyebabkan tsunami dan pembentukan kaldera (Judd, 1889), kemudian De Neve (1981) memperoleh keterangan bahwa sebelum terjadi paroksismal kedua, beberapa letusan terjadi pada abad 3, 9, 10, 11, 12, 14, 16 dan 17 yang diikuti dengan pertumbuhan kerucut Rakata, Danan dan Perbuatan. Kegiatan vulkanik tersebut berhenti pada tahun 1681.

Setelah beristirahat lk. 200 tahun, Krakatau kembali memperlihatkan kegiatannya yang diawali dari beberapa letusan G. Danan dan G. Perbuatan. Pada 20 Mei 1883 letusan G. Perbuatan berkomposisi basaltis mengawali letusan paroksismal pada 27 Agustus 1883 yang berkomposisi dasit (SiO2 = 64-68%)(Neumann van Padang, 1951). Letusan paroksismal terjadi pada hari Minggu 27 Agustus 1883 pada pukul 04.00-06.41 dan 10.00 waktu setempat. Suara letusan terdengar sejauh 4.500 km, tinggi asap 80 km, energi yang dikeluarkan 1 X 1025 erg. Tsunami terjadi 30 menit setelah letusan kataklismik dengan tinggi gelombang 30 m di pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.

Krakatau tenang kembali mulai Februari 1884 sampai Juni 1927, ketika pada 11 Juni 1927 erupsi yang berkomposisi magma basa muncul di pusat komplek Krakatau, yang dinyatakan sebagai kelahiran G. Anak Krakatau. Akibat letusan-letusannya, G. Anak Krakatau tumbuh semakin besar dan tinggi, membentuk kerucut yang sekarang mencapai tinggi lk. 300 m dari muka laut. Di samping menambah tinggi kerucut tubuhnya, juga memperluas wilayah daratannya.

Catatan sejarah kegiatan vulkanik G. Anak Krakatau sejak lahirnya 11 Juni 1930 hingga 2000, telah mengadakan erupsi lebih dari 100 kali baik bersifat eksplosif maupun efusif. Dari sejumlah letusan tersebut, pada umumnya titik letusan selalu berpindah-pindah di sekitar tubuh kerucutnya. Waktu istirahat berkisar antara 1 – 8 tahun dan umumnya terjadi 4 tahun sekali berupa letusan abu dan leleran lava. Kegiatan terakhir G. Anak Krakatau, yaitu letusan abu dan leleran lava berlangsung mulai 8 Nopember 1992 menerus sampai Juni 2000. Jumlah letusan per hari tercatat oleh sesimograf yang ditempatkan di Pos PGA Pasauran, sedangkan jumlah material vulkanik yang dikeluarkan selama letusan tersebut lk. 13 juta m3, terdiri dari lava dan material lepas berkomposisi andesit basaltis.



Rincian kegiatan vulkanik G. Krakatau :



-1680 –
1681 Mei 1680 sampai Mei 1681, letusan abu disertai leleran lava.

-1883
20 Mei 1883 kegiatan diawali dari G. Perbuatan, letusan abu dan semburan uap mencapai tinggi 11 km dan suara dentumannya terdengar sejauh 200 km. Pada Juni kegiatan vulkanik juga terjadi di G. Danan. Erupsi paroksisma terjadi pada 26 – 28 Agustus. Setelah pukul 13.00, 26 Agustus beberapa erupsi terjadi dan mencapai puncaknya pada Minggu 27 Agustus, pukul 10.02 dan pada pukul 10.52 dentumannya terdengar di Singapura dan Australia. Erupsi ini menyemburkan batuapung dan abunya mencapai tinggi 70-80 km, endapannya menempati area 827.000 km2. Runtuhan tubuh gunungapi ini menyebabkan tsunami dengan tinggi gelombang rata-rata 20 m menyapu pantai-pantai di Selat Sunda dan baratlaut Jawa, serta menyebabkan 36.417 koban jiwa.

September dan Oktober letusan freatik.

-1884
Pebruari, letusan freatik merupakan kelanjutan dari Oktober 1883.

-1927
29 Desember, kegiatan vulkanik baru terjadi di pusat kaldera, timurlaut dasar kaldera pada kedalaman 188 m dan dinyatakan sebagai kelahiran G. Anak Krakatau. Kawah baru ini satu garis dengan kawah-kawah Danan dan Perbuatan sebelumnya. Rentetan kegiatan erupsi berlanjut hingga 1930, sebagai berikut :

-1928
5 Februari, 25 Maret, 2 Juni, 6-13 Juli, 25 Agustus-4 September, 4-26 Nopember, 11-20 Desember.

-1929
12 Januari-18 Februari, 6-13 Maret, 8-20 Juni, 25 Juli-25 Agustus, 19 September-7 Oktober, 7-23 Desember.

-1930
14-28 Januari, 10 Maret-5 April, 30 April-15 Mei, 2 Juni-15 Agustus.

-1931
Terjadi danau kawah, erupsi abu mencapai tinggi 2400 m dan erupsi samping pada 23-26 September, 5-7 Nopember, 5-21 Desember.

-1932
12-17 Februari erupsi lanjutan dari tahun sebelumnya.

-1933
Erupsi di danau kawah pada 16 Januari-25 Mei, 10-17 Juni, 5-6 Juli, 5 September-5 Oktober, 10 Nopember-6 Desember.

-1934
Kegiatan lanjutan dari tahun sebelumnya pada 6-26 Januari, selama Maret, 5-12 Mei, 7-9 Juni. Pada periode ini salah satu erupsinya mencapai tinggi 6800 m.

-1935
Erupsi abu dan erupsi freatik di danau kawah, ukuran danau kawah mencapai 275 X 250 m2, kegiatan terjadi pada 4-14 Januari, 6 Februari-6 Mei dan 25 Mei-12 Juli.

-1936
Erupsi abu pada 13 Oktober dan selama Nopember tinggi tiang abu berkisar antara 100 – 300 m.

-1937
Erupsi di danau kawah terjadi pada 6 Agustus-21 September tinggi abu antara 2000-2600 m, kemudian pada 17-23 Nopember erupsi-erupsi kecil pada kawah baru di bagian baratdaya.

-1938
Erupsi abu dan erupsi freatik di danau kawah berlangsung hingga 1940. Kegiatan terjadi pada 4 Juli-29 Agustus, 12-14 September, 2 Oktober, 7 Nopember, 8-9 Desember.

1939


15-27 Januari, 20 Maret, 1 Juni-4 Agustus, 23-25 September, 13 Desember sampai

1940


9 Januari, 3-10 Februari, 1 Maret-15 Mei, dan 10 Juni-2 Juli. Pada Juni tinggi letusan mencapai 1000-4000 m.

1941


Erupsi di danau kawah pada 28 Januari-12 Februari

1942


Erupsi di danau kawah pada 29-30 Januari.

1943


Erupsi di danau kawah.

1944


Erupsi di danau kawah.

1945


Erupsi di danau kawah.

1946


Erupsi di danau kawah pada 25 Juli dan selama Desember.

1947


Erupsi di danau kawah selama April.

1948


Erupsi di danau kawah.

1949


Erupsi di danau kawah pada 12 Mei.

1950


Erupsi di danau kawah pada 3-7 Juli.

1952


Erupsi di danau kawah pada 10-11 Oktober, terbentuk kerucut baru

dengan danau kawah bergaris tengah 440 m.

1953


Erupsi abu di danau kawah pada 20-23 September, tinggi kerucut

mencapai 116 m.

1958


Erupsi di danau kawah, tanggalnya tidak diketahui.

1959


Erupsi di danau kawah selama Juni-Juli. Kegiatan erupsi terdiri atas 4 fase: 1. Erupsi abu hitam, 2. Erupsi abu dan gas dengan tiang asap setinggi 500 m, 3. Erupsi abu setinggi 1000 – 1500 m, dan 4. Erupsi abu hitam.

1960


Kegiatan erupsi lanjutan dari tahun sebelumnya, terjadi pada 12-13 Januari, tinggi asap mencapai 1000 m.

1961


Kegiatan erupsi tidak diketahui tanggalnya, melenyapkan danau kawah bulan sabit dan leleran lava mengisi kawah dan dan bibir kawah bagian timur.

1963


Leleran lava menembus laut melalui pematang baratdaya kawah dan

membentuk seperti kipas.

1968


Erupsi freatik selama September.

1972-1973


Erupsi abu menerus mencapai tinggi 1600 m. Saksi mata mengamati kejadian erupsi pada 26 Juni, 21-22 Desember dan 29 Desember 1972. Kagiatan erupsi menerus hingga Januari 1973 dan diakhiri leleran lava ke arah selatan, baratdaya dan barat, menembus laut sehingga memperluas daratan.

1975


Erupsi abu selama tahun ini dan diakhiri dengan leleran lava ke arah barat-

baratlaut.

1979


Erupsi abu hampir selama tahun ini dan diakhiri dengan leleran lava ke arah baratdaya.

1981


Erupsi abu sejak Februari hingga Juli, dan diakhiri dengan leleran lava ke

arah selatan menindih lava 1973-1973.

1984


Erupsi abu terjadi pertengahan tahun dan tidak diketahui tanggalnya.

1988


Erupsi abu pada 16-18 Maret membentuk kawah baru di lereng selatan dan kegiatannya diakhiri dengan leleran lava yang terbatas pada lereng selatan.

1992 - 2000


Erupsi abu terjadi pada 8 Nopember, kegiatannya dimulai dengan peningkatan kegempaan vulkanik sejak Agustus. Kegiatan erupsi menerus sampai tahun 2000 setiap hari atau setiap beberapa menit, menyemburkan abu dengan tinggi rata-rata 400 – 800 m dan leleran lava. Leleran lava terjadi pada Nopember-Desember 1992, Februari 1993, April-Mei 1993, Juni 1993, Januari 1996, Juni 1996 dan Juli 1996. Leleran lava tersebut umumnya mencapai laut, sehingga menambah daratan pulau tersebut. Perhitungan material yang disemburkan selama itu berupa lava dan material lepas adalah 22 juta m3 dan penambahan daratan 380.000 m2. Tinggi G. Anak Krakatau mencapai 305 m dml.

2001


Erupsi abu pada 5 Juli.



Tsunami akibat erupsi Krakatau 1883

Tsunami dapat terjadi akibat gempabumi tektonik, erupsi gunungapi bawah laut, longsoran di dasar laut, aliran piroklastika/lahar masuk ke laut. Dari 106 kejadian tsunami, umumnya berasal dari kegiatan gunungapi, terutama akibat erupsi gunungapi bawah laut, atau gempa tektonik yang disertai erupsi gunungapi.

Erupsi Krakatau 1883 menyebabkan hilangnya dua gunungapi (Danan dan Perbuatan) dan sebagian G. Rakata. Erupsi ini menyebabkan tsunami yang menyapu kota-kota kecil di sepanjang pantai Banten dan Lampung Selatan, termasuk kota Teluk Betung. Di Teluk Betung, gelombang pasang air laut mencapai tinggi 20 m. Sebuah kapal, “The Berouw” yang berada di Pelabuhan Teluk Betung saat itu, terlempar sejauh 3.300 m ke dalam hutan. Furneaux, 1964 memperoleh keterangan bahwa dentuman Krakatau terdengar di Teluk Betung sesaat setelah pukul 10.00 dan gelombang pasang mencapai kota Teluk Betung pukul 11.03, mengakibatkan kerusakan berat kota Teluk Betung dan memakan korban lk. 5000 jiwa, diantaranya 3 orang kebangsaan Eropa dan 2.260 orang penduduk setempat.

Kota Merak yang terletak di semenanjung Banten, dilanda gelombang pasang setinggi 30 m dan 40 m. Gelombang pasang ini juga menyapu Teluk Semangko sesaat setelah memporak porandakan Teluk Betung dan gelombangnya tidak setinggi yang ke arah Teluk Lampung, tetapi cukup menghancurkan sepanjang garis pantai dan merusak banyak perkampungan dan korban jiwa, diantaranya 2.500 penduduk tewas di kampung Benewani, 327 hilang di Tanjungan dan Tanot Baringin dan 244 jiwa di Beteong. Gelombang pasang setinggi 13,6 m juga melanda mercusuar Bengkulen yang terbuat dari beton dan menewaskan 10 orang yang sedang bekerja.

Di daerah Banten, seluruh pantainya terlanda gelombang pasang, banyak perkampungan terlanda gelombang dan menewaskan penduduk termasuk seorang pastur di Prince island. Di Tangerang, gelombang pasang setinggi orang melanda perkampungan, dan dalam beberapa menit gelombang balik menghanyutkan penduduk, binatang, perumahan dan pepohonan. Pada peristiwa ini tercatat 1.974 penduduk setempat dan 46 kebangsaan Asia penduduk Karanghantu tewas.

Gelombang pasang yang meninggalkan Krakatau pada pukul 10.00 merambat dalam waktu 2 jam 30 menit mencapai Jakarta, yang berjarak 169 km. Air laut naik secara cepat dari mulai pukul 11.30 dan pukul 12.15 gelombang pasang besar menyapu pantai Jakarta melebihi maksimum pengukur tinggi gelombang. Air surut lagi pukul 02.48 sore sehingga pengukur tinggi gelombang dapat terbaca kembali. Di Tanjung Priuk tinggi gelombang laut saat itu rata-rata 3 m dalam beberapa menit. Dalam peristiwa ini tercatat 300 orang nelayan tewas dan satu perkampungan Cina hancur.

Gelombang tsunami akibat erupsi Krakatau ini juga bergerak ke arah barat menuju Samudera Hindia mencapai semenanjung Good Hope, kemudian ke arah utara menuju menuju Samudera Atlantik. Gejala tsunami ini ditemukan di Cape Town (13.032 km) dan hampir teramati di seluruh pantai di sekitar Samudera Hindia dan Samudera Atlantik. Pengukur tinggi gelombang di Pelabuhan Cape Horn (14.076 km) dan Panama (20.646 km) menunjukkan adanya gelombang pasang dengan kecepatan rata-rata 720 km per jam, bahkan dilaporkan bahwa tsunami ini mencapai Selat Inggris yang berjarak 19.873 km dari Krakatau.


Baca juga Ini yah :



1 Komentar:

Hidayat Syah said...

izin kopas ya..keren nih..

Post a Comment